MISINDOGLOBALNEWS - Suriah, Maret 2025 – Di tengah ketidakpastian politik dan konflik yang masih berlangsung di Suriah, komunitas Kristen terus menghadapi ancaman serta tindakan kekerasan yang mengkhawatirkan. Sejak pecahnya perang saudara, umat Kristen di negara itu mengalami berbagai bentuk penganiayaan, termasuk serangan fisik, pembunuhan, serta pembatasan dalam menjalankan ibadah mereka.
Serangan terhadap Umat Kristen
Sejumlah insiden yang terjadi selama beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa posisi komunitas Kristen di Suriah semakin rentan. Salah satu kejadian yang paling mengejutkan adalah pembunuhan Pastor Frans van der Lugt, seorang imam Jesuit asal Belanda yang telah tinggal di Suriah selama puluhan tahun. Pada April 2014, Pastor Frans ditembak mati di Homs oleh orang tak dikenal, meskipun ia dikenal sebagai tokoh yang berupaya menjaga perdamaian di tengah perang.
Selain itu, laporan dari organisasi Open Doors pada tahun 2013 mencatat peningkatan signifikan dalam jumlah kasus pembunuhan terhadap umat Kristen karena iman mereka. Suriah menjadi negara dengan jumlah korban tertinggi, mencapai 1.213 kematian pada tahun tersebut, mencerminkan meningkatnya ancaman yang dihadapi oleh kelompok minoritas ini.
Kekhawatiran di Bawah Rezim Baru
Pada Desember 2024, ketika pemerintahan Presiden Bashar al-Assad digulingkan, kelompok Islamis Hayat Tahrir al-Sham (HTS) mengambil alih kekuasaan di beberapa wilayah. Meskipun pemimpin HTS, Ahmed al-Sharaa, berjanji untuk melindungi hak-hak minoritas, banyak warga Kristen tetap merasa waspada.
Beberapa insiden yang memicu kekhawatiran antara lain:
Serangan terhadap gereja Ortodoks Yunani di Latakia.
Patroli bersenjata HTS di lingkungan Kristen yang menyiarkan lagu-lagu jihad.
Pembatasan terhadap perayaan Natal, yang memaksa umat Kristen untuk merayakan dengan sederhana di bawah pengawasan ketat.
Situasi yang Belum Menunjukkan Perbaikan
Meskipun pemerintah baru mengklaim bahwa minoritas agama akan dilindungi, banyak pihak internasional tetap skeptis. Pada Maret 2025, beberapa negara Barat, termasuk Jerman, mulai membuka kembali kedutaan mereka di Suriah, tetapi dengan pendekatan yang hati-hati. Para pemimpin gereja lokal juga terus menyerukan perlindungan lebih bagi komunitas Kristen agar mereka dapat menjalankan keyakinan mereka tanpa rasa takut.
Dengan kondisi yang masih belum stabil, umat Kristen di Suriah kini menghadapi masa depan yang tidak pasti. Meskipun telah ada janji keamanan dari pihak berwenang, insiden-insiden terbaru menunjukkan bahwa ancaman penganiayaan dan pembatasan kebebasan beragama masih menjadi kenyataan yang harus mereka hadapi setiap hari.
(Sumber: Reuters, Reuters)
Bung Johan