ISRAEL DIGEMPUR DARI SEGALA ARAH – MAMPUKAH ISRAEL BERTAHAN?

label

Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami |
Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami | Mari bergabung bersama kami para jurnalis/wartawan untuk dapat mengembangkan skill dan pengalaman dalam menulis, silahkan hubungi team kami atau redaksi kami |

iklan

iklan

ISRAEL DIGEMPUR DARI SEGALA ARAH – MAMPUKAH ISRAEL BERTAHAN?

Rabu

Sumber foto: Unsplash.com/Levi Meir Clancy


MISINDOGLOBALNEWS - ISRAEL, 27 Maret 2025, Israel tengah menghadapi ujian berat dalam sejarah konfliknya, dengan pertempuran yang berlangsung di lima front berbeda: Jalur Gaza, Lebanon, Suriah, Tepi Barat, serta ancaman dari kelompok Houthi di Yaman. Eskalasi ini menambah tekanan besar bagi Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dan menguji ketahanan strategis serta diplomasi negara itu.

Jalur Gaza: Perang Tak Kunjung Usai.
Di Jalur Gaza, perang antara Israel dan Hamas terus berlangsung dengan intensitas tinggi. Serangan udara Israel menargetkan berbagai posisi strategis Hamas, termasuk Rumah Sakit Nasser, yang menewaskan lima orang, salah satunya pemimpin politik Hamas, Ismail Barhoum.

Serangan Israel ini dilakukan sebagai respons terhadap serangan roket yang terus dilancarkan Hamas ke wilayah Israel. Meski upaya mediasi telah dilakukan oleh Mesir dan negara-negara lain, hingga kini belum ada tanda-tanda gencatan senjata yang langgeng. Situasi kemanusiaan di Gaza pun semakin memburuk, dengan ribuan warga sipil menjadi korban dan infrastruktur yang hancur.

Lebanon: Serangan dari Utara.
Di perbatasan utara, Israel harus menghadapi ancaman dari Lebanon. Beberapa roket ditembakkan dari wilayah Lebanon ke Israel, yang memicu serangan balasan dari IDF. Israel menargetkan infrastruktur militer di Lebanon selatan, meskipun kelompok Hizbullah membantah bertanggung jawab atas serangan awal tersebut.

Konflik di Lebanon berpotensi semakin meluas jika Israel dan Hizbullah terlibat dalam perang terbuka. Hizbullah, yang didukung Iran, memiliki persenjataan canggih dan pengalaman bertempur dalam perang Suriah, menjadikannya ancaman serius bagi keamanan Israel.

Suriah: Ancaman dari Timur.
Di front timur, Israel juga menghadapi ancaman dari Suriah. Pasukan yang didukung Iran di Suriah melancarkan serangan roket ke Israel, mendorong IDF untuk merespons dengan serangan udara terhadap target strategis di wilayah tersebut.

Salah satu target utama Israel adalah Bandara Aleppo, yang diyakini digunakan sebagai pusat logistik bagi kelompok-kelompok pro-Iran. Dengan Iran terus memperluas pengaruhnya di Suriah, Israel menghadapi dilema besar dalam menahan ancaman dari arah timur tanpa harus terlibat lebih dalam dalam konflik Suriah.

Tepi Barat: Ketegangan Meningkat
Di dalam wilayah pendudukan Tepi Barat, ketegangan juga meningkat tajam. Bentrokan antara warga Palestina dan pasukan Israel semakin sering terjadi, terutama setelah serangkaian operasi militer Israel di daerah yang dianggap sebagai basis kelompok-kelompok bersenjata Palestina.

Militer Israel mengklaim operasi ini bertujuan untuk mencegah serangan teroris terhadap warganya, tetapi bagi warga Palestina, tindakan tersebut dianggap sebagai bentuk penindasan yang semakin memperburuk situasi. Dengan meningkatnya aksi protes dan serangan sporadis, Tepi Barat berpotensi menjadi titik ledakan baru dalam konflik ini.

Ancaman dari Houthi di Yaman: Dimensi Baru Konflik.
Selain menghadapi ancaman dari darat, Israel juga berhadapan dengan serangan dari arah selatan, yakni kelompok Houthi di Yaman. Houthi, yang juga didukung oleh Iran, telah beberapa kali mengancam akan menyerang Israel menggunakan drone dan rudal jarak jauh.

Beberapa waktu lalu, Israel telah meningkatkan sistem pertahanan udaranya untuk menghadapi kemungkinan serangan dari Houthi. Meski ancaman dari Yaman bukan yang paling utama, keberadaan kelompok ini semakin memperumit strategi pertahanan Israel.

Mampukah Israel Bertahan?

Dengan konflik yang meluas di lima front berbeda, Israel berada dalam situasi yang sangat menantang. IDF harus membagi sumber daya militernya secara efisien untuk menghadapi ancaman dari berbagai arah.

Di sisi lain, dukungan dari sekutu utama seperti Amerika Serikat bisa menjadi faktor penentu dalam ketahanan Israel. AS telah menyatakan dukungan penuh terhadap Israel dan bahkan mengirim bantuan militer tambahan. Namun, tekanan internasional untuk mengakhiri konflik juga semakin besar, terutama terkait dengan korban sipil di Gaza.

Jika Israel gagal mengelola konflik ini dengan baik, bukan tidak mungkin perang yang lebih besar akan pecah, yang dapat menyeret lebih banyak negara ke dalam pusaran konflik. Dunia kini menunggu bagaimana Israel akan menavigasi tantangan ini dan apakah solusi diplomatik masih mungkin dicapai sebelum situasi semakin tak terkendali. (Bung Johan). 


Berita Terdahulu


Berita Populer